Shalat Membantu Melancarkan Rezekimu

Diposting : 18 Rabiul Akhir 1436 H / View : 380x Tags:

Shalat-Membantu-Melancarkan-Rezkimu

Maka shalat justru membantu seorang muslim, bukannya menjadi penghalang baginya dalam mencari rezeki. Shalat tidak menghalanginya dari pekerjaan yang dia butuhkan, namun shalat justru menyucikannya dari dosa-dosa dan membantunya dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Adalah Nabi shallallâhu alaihi wa sallam, jika beliau mengalami suatu kesusahan maka beliau bersegera untuk mendirikan shalat. Dan beliau juga pernah bersabda,

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا، أَرِحْنَا بِهَا

Wahai Bilal, tegakkanlah (iqamah untuk mendirikan) shalat. Buatlah kami beristirahat dengan shalat. Buatlah kami beristirahat dengannya.”

Beliau tidak mengatakan, “Istirahatkanlah kami darinya.

Maka shalat adalah ketenangan bagi seorang muslim, bagi siapa saja yang menjaganya, mengetahui kedudukannya, dan senantiasa menegakkannya. Karena shalat akan memberinya kekuatan dan bantuan dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Sumber : http://alfawzan.af.org.sa/node/14076

Harta Terbaik untuk Disimpan

Harta Terbaik untuk Disimpan

Rasulullah pernah ditanya tentang harta terbaik,

أَيُّ الْمَالِ خَيْرٌ اتَّخَذْنَاهُ فَقَالَ: أَفْضَلُهُ لِسَانًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا شَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُهُ عَلَى إِيمَانِهِ

Lisan yang banyak berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri mukminah yang membantunya untuk beriman.

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan selainnya, dihasankan oleh Syu’aib dkk dalam Tahqiq Musnad)

Salafy, Hakekat dan Karakteristiknya (2)

Ajaran mereka yang kedua, mereka berkata kepada manusia bahwa ilmu itu bukanlah didapatkan dengan belajar, tapi ilmu itu akan datang kepadamu dengan langsung jika kamu bersungguh-sungguh dalam ibadah. Allah akan bukankan pintu untukmu tanpa kamu belajar. Ini adalah kesesatan, semoga Allah melindungi kita darinya. Hendaknya kita mewaspadai dari hal yang seperti ini. Ilmu itu dengan belajar, tidak akan mungkin bisa mendapatkan ilmu tanpa belajar kepada para ahli ilmu dan pengetahuan, menuntut ilmu kepada para ulama.Berilmu sebelum berkata dan beramal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Bukhari rahimahullâh dalam Shahih Al-Bukhari, ‘Bab: Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal’, kemudian beliau menyebutkan ayat,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah/berilmulah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” [Muhammad: 19]

“…ketahuilah/ berilmulah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah…”, engkau belajar agar berilmu terlebih dahulu kemudian setelah itu engkau memohon ampunan, barulah beramal setelah berilmu, sehingga harus dengan ilmu, yaitu dalil yang mengantarkan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Allah telah menurunkan Kitab dan mengutus seorang Rasul kepada kita untuk membimbing kita kepada jalan yang benar, (jalan) yang harus kita tempuh, itulah ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ

Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar. [At-Taubah: 33]

“… petunjuk (Al-Quran)…”, inilah ilmu yang benar, dan “… agama yang benar.”, inilah amalan shalih. Sehingga haruslah dengan mengumpulkan dua perkara, ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Inilah yang datang dengannya Rasulullah shallallâhu ‘alahi wa sallam, beliau tidaklah datang hanya dengan membawa ilmu semata tanpa amalan, dan tidak pula datang hanya dengan amalan tanpa ilmu, namun dua perkara yang harus bergandengan semuanya, haruslah dengan amalan yang tegak di atas ilmu dan petunjuk. Dan juga haruslah bagi seorang yang berilmu mengamalkan ilmunya, jika tidak demikian maka ilmu yang tidak diamalkan dan (juga) seorang yang beramal tidak di atas ilmu, (maka) kedua jenis ini semuanya akan binasa, kecuali bagi yang memiliki ilmu yang bermafaat dan amalan shalih, dengan inilah Allah mengutus Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan inilah salafiyyah yang benar, inilah karakteristik salafush shalih: ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih, inilah karakteristik salafush shalih.

Dan, salaf itu artinya adalah orang-orang yang telah berlalu.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ

Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami. [Al-Hasyr: 10]

Tatkala Allah menceritakan para shahabat Al-Muhajirin dan Al-Anshar dalam surat Al-Hasyr, Allah berfirman,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami’, disebut dengan,  “…dan saudara-saudara kami …”, yaitu, “…yang telah beriman lebih dulu dari Kami…”, mendahului dengan apa? “…yang telah beriman lebih dulu dari Kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami …”, kedengkian dan kebencian, “… kepada orang-orang yang beriman…”, maka bagi yang membenci orang-orang terdahulu dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, juga membenci generasi yang memiliki keutamaan, itu adalah orang yang dimurkai Allah dengan kemurkaan pada dirinya dan amalannya bagaikan debu yang berterbangan, karena ia tidak tegak di atas petunjuk.

Dan amalan itu hanyalah diterima dengan dua syarat:

Syarat pertama, amalan tersebut ikhlash berharap wajah Allah.

Syarat kedua, amalan tersebut benar sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah.

Allah berfirman,

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ

Bahkan, barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah. [Al-Baqarah: 112]

“… yang menyerahkan diri kepada Allah”, ini adalah keikhlasan, berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya, dan dialah ‘muhsin’, yaitu yang mengikuti Rasul shallallâhu ‘alaihi dan meninggalkan segala perkara bid’ah dan perkara baru dalam agama, namun beramal hanya dengan sunnah Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Inilah manhaj salaf, yang bersumber dari Al-Kitab dan Sunnah. Sehingga jangan kau katakan, darimana sumber manhaj salaf? Saya tidak tahu darimana sumber referensi manhaj salaf?! Wahai saudaraku, Al-Kitab dan Sunnah dengannyalah kamu akan mengenal manhaj salaf. Dan juga tidak bisa kamu mengambil Al-Kitab dan Sunnah kecuali melalui perantara para ulama yang kokoh ilmunya. Haruslah seperti ini, maka bagi yang ingin berjalan di atas manhaj salaf haruslah ia komitmen di atas ketentuan syar’i seperti ini, jika tidak seperti itu maka seperti yang terjadi sangat banyak pada hari-hari ini yang mengklaim dirinya di atas manhaj salaf akan tetapi mereka di atas kesesatan dan kesalahan yang fatal, namun mereka sandarkan semua itu kepada manhaj salaf. Oleh karena itulah orang-orang kafir dan munafikin serta orang-orang yang berpenyakit hatinya mencela para salafy. Segala kejelekan, segala kebrutalan dan kerusakan, dan musibah mereka katakan itulah orang-orang salafy.

Yang seperti ini, salafiyyah berlepas diri darinya dengan sejauh-jauhnya. Dan juga salaf berlepas diri darinya, bukanlah manhaj salaf yang seperti itu, tetapi manhaj kesesatan walaupun bernama manhaj salaf. Harus dibedakan antara penamaan dan hakikat, karena jika hanya sekadar penamaan namun tidak pada hakikatnya ini bukanlah seorang salafy, dan salaf justru berlepas diri darinya. Manhaj salaf dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shalih serta hubungan persaudaraan di atas agama Allah, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, inilah manhaj salafush shalih. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, ia akan selamat dari fitnah-fitnah dan kejelekan, dan ia akan menuju keridhaan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ

“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. [At-Taubah: 100]

Semua orang menginginkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang indah. Semua orang tidak ada yang mau neraka dan tidak pula adzabnya, akan tetapi pembahasannya adalah apa sebab-sebab yang bisa mengantarkan ke surga dan menyelamatkan dari neraka. Tidak ada yang bisa menjadi sebab terwujudnya hal itu selain dengan komitmen dengan manhaj salafush shalih, berkata Imam Malik rahimahullâh,

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها

“Tidaklah akan menjadi baik akhir umat ini kecuali dengan perkara yang telah membuat baik umat terdahulunya.”

Apa yang telah membuat baik generasi terdahulu? Tidak lain kecuali Al-Kitab dan Sunnah. Dan tidaklah juga bisa baik umat ini kecuali dengan Al-Kitab dan Sunnah, dan Al-Kitab serta Sunnah ada bersama kita. Alhamdulillah, terjaga dengan penjagaan Allah.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan AlQur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[Al-Hjir: 9]

Terjaga, dengan idzin Allah. Maka barangsiapa yang menginginkannya dengan jujur dan belajar dengan metode belajar yang benar, ia akan dapatkan. Adapun barangsiapa yang hanya mengklaim tanpa wujud hakikatnya atau hanya sekadar ikut-ikutan semata dengan orang-orang yang mengklaim salafiyyah, padahal tidak di atas manhaj salaf, ini tidaklah akan memberikan manfaat padanya justru akan membahayakannya. Dan masalahnya, ternyata yang seperti ini modelnya menyandarkan dirinya kepada salaf dan orang-orang yang mengikuti salaf, ini adalah kedustaan atas salafiyyah. Ini adalah kedustaan kepada manusia, yang dilakukan sengaja atau tidak, oleh pengekor hawa nafsu atau orang bodoh.

والدعاوى إذا لم يقيموا   عليها بينات أهلها أدعياء

Dan pengakuan itu bila tidak benar,

maka wajib baginya mendatangkan bukti dari klaim itu.

Haruslah bagi yang mengklaim dirinya atau menyandarkan kepada salaf untuk mewujudkan pengakuan dan penamaan serta penyandarannya itu dengan mengamalkan manhaj salaf dalam aqidah, ucapan, amalan dan juga dalam mu’amalah hingga menjadi seorang salafy yang sesungguhnya, dan menjadi contoh yang baik dalam mengamalkan madzhab salaf shalih. Maka barangsiapa yang menginginkan manhaj ini, maka harus baginya untuk mengenalnya dan mempelajarinya dan beramal dengannya pada dirinya sendiri pertama kali dan ia juga menyeru orang lain kepadanya, ia jelaskan kepada manusia.

Inilah jalan yang selamat, inilah golongan yang selamat, ahlus sunnah wal jama’ah, siapa saja yang berada di atas perkara yang Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya berada di atasnya, kemudian ia bersabar di atasnya dan istiqamah dan juga tidak berpaling dengan adanya fitnah-fitnah, seruan-seruan yang sesat, tidak goyah dengan adanya berbagai badai, namun kokoh di atas apa yang telah ia jalani tersebut hingga ia berjumpa dengan Rabbnya Subhânahu wa Ta’âlâ.

Semoga Allah memberi taufik untuk Kita semua kepada perkara yang Ia ridhai dan cintai.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/%2014381]

Salafy, Hakekat dan Karakteristiknya (1)

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. أما بعد:

Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallamtelah mengkhabarkan bahwasanya kelak akan terjadi perpecahan di tengah umat ini sebagaimana yang telah terjadi pada umat terdahulu. Dan beliau juga telah memberikan wasiat kepada Kita (dalam) menghadapi hal tersebut dengan berpegang teguh kepada perkara yang telah dijalani oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan Nashrani berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu.”

Beliau ditanya, “Siapakah mereka yang selamat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

Setiap orang yang berada di atas perkara yang saya dan para shahabatku pada hari ini berada di atasnya.

Dan dalam riwayat lain, “Dan setiap kesesatan itu di neraka.”

Inilah yang diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita tatkala terjadi perselisihan dan perpecahan agar komitmen di atas perkara yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya. Karena sudah kepastian yang akan terjadi dan memang telah terjadi, sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jalan selamat adalah komitmen di atas perkara yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya, inilah golongan yang selamat dari neraka, dan golongan-golongan yang lainnya itu di neraka.

Dan karena itulah dinamakan dengan Firqatun Nâjiyah (golongan yang selamat) Ahlus Sunnah Wal Jamaah, ini adalah golongan yang memiliki perbedaaan dengan golongan lainnya yaitu dengan mengikuti Al-Qur`an dan Sunnah. Dan segala selainnya itu adalah golongan aliran yang sesat, walaupun disandarkan kepada umat ini namun metodologi dakwahnya menyelisihi metodologi manhaj Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya. Dan ini di antara wujud sempurnanya nasihat beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta kesempurnaan penjelasan beliau kepada manusia, sehingga jalan itu telah jelas –walhamdulillah- dengan mengikuti Al-Qur`an dan Sunnah dan segala yang ada padanya, para salaf umat ini dari kalangan para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga akhir tiga atau empat dari generasi yang memiliki keutamaan. Sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik dari kalian adalah yang hidup di genarasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelah mereka.” Berkata periwayat hadits, “Saya tidak tahu, apakah beliau menyebut setelah generasi beliau dua atau tiga.” Kemudian beliau bersabda, “Akan datang kelak setelah mereka suatu kaum, setelah generasi mereka itu tadi, yang mereka itu suatu kaum yang bersumpah padahal tidaklah diminta untuk bersumpah, mempersaksikan padahal tidak diminta untuk bersaksi. Mereka berkhianat dan tidaklah bisa dipercaya. Dan akan tampak dari mereka itu orang-orang yang gemuk.”

Setelah masa generasi yang utama tadi, terjadilah hal ini. Akan tetapi bagi yang tetap berjalan di atas manhaj yang telah ditempuh oleh generasi utama tersebut walaupun dia berada di akhir hari dunia ini, maka ia akan selamat dari neraka. Dan Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah: 100]

Maka Allah telah menjamin bagi yang mengikuti para muhajirin dan anshar, namun dengan syarat, “… dengan baik …”, yaitu dengan benar-benar kokoh bukan dengan klaim diri semata atau hanya sekadar penyandaran tanpa pengamalan baik karena kebodohan atau atau karena hawa nafsu. Tidaklah setiap yang menyandarkan diri kepada salaf itu telah dikatakan tepat, hingga ia benar-benar mengikuti dengan baik. Inilah syaratnya sebagaimana yang telah Allah jadikan sebagai syarat. Syarat, “dengan baik” ini maksudnya adalah kokoh lagi sempurna. Inilah yang dituntut dari pengikutan itu sehingga haruslah dipelajari manhaj salaf, dikenali dan dipegang dengan kokoh.

Adapun bagi mereka yang hanya menyandarkan dirinya saja kepada mereka para shahabat itu, namun tidak mengilmui akan manhaj mereka tidak pula mengilmui metode pemahaman dalam  beragama mereka, ini tidaklah bisa memberikan apa-apa dan tidaklah bisa bermanfaat sedikitpun. Mereka tidaklah bisa dikatakan sebagai salaf, mereka bukanlah dari kalangan pengikut salaf. Karena mereka tidak mengikuti generasi salaf itu dengan baik, sebgaimana yang disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itulah kalian –Alhmadulillah- berada di universitas ini, di negeri ini, di masjid ini. Negeri yang dipelajari di dalamnya manhaj salafush shalih sehingga Kita bisa mengikuti mereka dengan baik bukan hanya sebatas pengakuan dan penamaan saja. Betapa banyak orang-orang yang mengaku dakwahnya dakwah salafiyyah dan dirinya di atas manhaj salaf padahal dirinya berada di atas perkara yang menyelisihi hal tersebut, karena kebodohannya terhadap manhaj salaf atau dikarenakan hawa nafsunya. Dia tahu akan tetapi dia lebih mengikuti hawa nafsunya bukan mengikuti manhaj salaf.

Lebih dari itu, bagi yang berada di atas manhaj salaf maka ia butuh akan dua perkara, sebagaimana yang telah kita sebutkan, yaitu mengilmui manhaj salaf dan yang kedua berpegang teguh atau komitmen dengan manhaj salaf. Dan jika ia telah mengemban semua itu, maka ia akan mendapati para penyimpang. Ia akan mendapatkan gangguan, perkara-perkara yang menyakitkan dan ia akan menjumpai tuduhan-tuduhan sebagaimana yang terjadi dari tuduhan-tuduhan yang jelek. Akan tetapi hendaknya ia bersabar di atas perkara tersebut karena ia  telah mantap berkeyakian di atas hal tersebut, maka janganlah ia tergoyahkan oleh badai angin yang kencang dan jangan pula ia berubah karena adanya fitnah-fitnah, bersabarlah di atas hal tersebut hingga berjumpa dengan Rabb-nya.

Hendaklah ia mempelajari tentang manhaj salaf terlebih dahulu, ia ikuti dengan baik, ia bersabar dengan perlakuan manusia kepadanya. Namun tidak sekadar seperti itu, haruslah baginya untuk menyebarkan manhaj salaf tersebut, harus baginya untuk menyeru manusia kepada Allah, mengajak kepada dakwah salaf, menjelaskan kepada manusia serta menyebarkannya, inilah seorang salafy yang sebenarnya. Adapun jika hanya sekadar mengklaim dakwah salafiyyah, namun tidak mengetahui akan manhaj salaf, atau mengetahuinya namun tidak mengikutinya tapi justru mengikuti kebiasaan manusia atau mengikuti perkara yang hanya sesuai dengan hawa nafsunya, ini bukanlah seorang salafiy walaupun berlabel ‘Salafiy’, atau dirinya tidak bersabar di tengah fitnah-fitnah terjadi, namun lembek dan terlalu bertoleransi dalam agamanya terhadap manhaj salaf, maka yang seperti ini bukanlah manhaj salaf. Bukanlah yang menjadi ukuran itu penamaan dan label saja, akan tetapi (yang menjadi) ukuran adalah hakikatnya. Inilah yang kita butuhkan, yaitu mencurahkan perhatian yang besar untuk mengenal manhaj salaf dan mempelajari manhaj salaf dalam aqidah, akhlak serta amalan di seluruh sisi akan manhaj salaf. Inilah manhaj yang disebutlkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang orang-orang yang berada di atasnya hingga akhir kiamat. Beliau bersabda, “Akan senantiasa ada di tengah umatku suatu golongan –inilah para pengikut salaf- yang mereka senantiasa berada di atas kebenaran, yang mereka akan senantiasa tampak, dan tidaklah akan membahayakan mereka setiap yang menghina mereka dan setiap yang menyelisihi mereka. Demikianlah keadaan mereka hingga datang keputusan Allah Tabâraka wa Ta’âlâ.

Dalam hadits ini disebutkan, “… dan tidaklah akan membahayakan mereka setiap yang menghina mereka dan setiap yang menyelisihi mereka… ” Ini menunjukkan bahwasanya aka ada yang menyelisihi mereka, akan ada yang akan menghina mereka. Akan tetapi tidaklah menggoyahkan mereka hal tersebut, bahkan mereka menjadikan itu semua (gangguan dan celaan; penj.) sebagai jalan menuju Allah Azza wa Jalla dan bersabar terhadap ujian dari-Nya. Sebagaiman nasihat Luqman Al-Hakim tatkala memberi wasiat kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan perintahlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itutermasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. [Luqmân: 17-18]

Inilah manhaj salaf, inilah karakteristik dan ciri mereka. Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah Dia. Dan janganlah kalianmengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa. [Al-An’âm: 153]

Allah berfirman,

“… adalah jalan-Ku…”,

Disandarkan kepada diri-Nya, penyandaran keagungan dan kemuliaan terhadap diri-Nya dan untuk yang berada di atas jalan-Nya.

Dan pada firman-Nya,

“…adalah jalan-Ku yang lurus”,

Maksudnya: pertengahan lagi lurus.

“…Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)…”

Ini menunjukkan bahwa di sana ada jalan-jalan yang banyak lagi tak terbatas.

“…dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian…”

Inilah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf, “…dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.”

Pertama kali dikatakan, “…maka ikutilah…”, kemudian setelah itu, “… Yang demikian itu diperintahkan kepada kalian…”  Ini adalah penekanan, “… yang demikian itu diperintahkan kepada kalian agar kalian bertakwa.” Agar kalian bertakwa dan takut kepada Allah, takut terhadap kesesatan, takut terhadap syubhat, takut terhadap segala perkara yang bisa menghalangi kalian dari jalan yang lurus ini. Ini semua menunjukkan akan ada banyak penghalang.

Dan perhatikan dalam ayat, bagaimana Allah menyebut dengan satu dari sekian banyak jalan-jalan yang ada. Jalan Allah itu satu tidaklah terbagi-bagi dan tidaklah berbilang serta tidak pula bengkok dan berbeda-beda. Adapun jalan-jalan selainnya itu, sangatlah banyak tak terhingga. Semua membuat dan menciptakan jalan pintas untuk dirinya. Semuanya menciptakan manhaj dan metode yang mudah untuknya dan untuk para pengikutnya dengan jalan dan metode yang sangat banyak. Allah berfirman, “…dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)…”, dan jika kalian ikuti jalan-jalan tersebut, apakah yang akan terjadi? “…itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya…”, akan mengeluarkan kalian dari jalan Allah Azza wa Jalla, kalian akan jatuh ke dalam kesesatan, kebinasaan serta kehancuran dan tidak ada keselamatan, kebaikan serta keberuntungan kecuali dengan komitmen di atas jalan yang lurus, yaitu jalan Allah Jalla wa ‘Alâ, dan selainnya itu merupakan jalan-jalan syaithan yang di setiap tepi jalan tersebut, ada syaithan yang mengajak manusia kepadanya.

Maka, waspadalah terhadap perkara ini. Janganlah terperdaya dengan banyaknya orang-orang yang menyelisihi, jangan toleh syubhat-syubhat, hinaan, serta celaan mereka kepada kita, tidak usah diperdulikan. Bahkan kita tetap berjalan menuju Allah di atas ilmu. Dan Allah telah memerintahkan kita di setiap raka’at pada shalat kita untuk membaca surat Al-Fatihah, yang di akhir surah,

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ)

Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus.

Jalan lurus itulah jalan Allah Azza wa Jalla, yang disebutkan dalam ayat tadi, “…adalah jalanKu yang lurus”.

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ)

“Berilah kami petunjuk kepada jalan…”

Maksudnya, tunjukilah kami dan bimbinglah kami serta kokohkanlah kami kepada jalan yagn lurus.

(صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ)

Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat mereka.

Siapakah mereka yang berjalan di atasnya?

الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu par Nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]

Itulah mereka teman, serta bagimu di atas jalan yang engkau tempuh ini.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]

Maka, janganlah engkau berkecil hati di atas jalan ini, karena yang menemanimu adalah orang-orang yang terpilih dari makhluk yang ada. Janganlah berkecil hati walaupun ada banyak jalan-jalan lainnya serta banyak pula yang menyelisihinya. Janganlah engkau menoleh kepadanya, sebab engkau yakin terhadap perkara yang engkau berpijak di atasnya yaitu jalan Allah Azza wa Jalla.

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fâtihah: 7]

Maksudnya, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukanlah pula jalannya orang-orang yang tersesat. Orang-orang yang dimurkai dalam ayat ini adalah mereka yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya, seperti kalangan Yahudi yang mereka itu berilmu akan tetapi mereka tidak mengamalkannya. Dan ilmu itu jika tidak diamalkan maka akan menjadi hujjah yang akan menghujat pemiliknya pada hari kiamat kelak.

والعلم إن كان أقوالا بلا عمل     فإن صاحبه بالجهل منغمِرُ

Dan ilmu itu, jika hanya ucapan semata tanpa amal       

Maka pemiliknya dengan kebodohan ia terhanyut

Maka harus disertai dengan amalan. Ilmu tanpa amal itu bagaikan pohon tanpa buah. Apa manfaatnya pohon yang tak berbuah? Karena itulah Allah murka kepada mereka karena mereka berilmu namun tidak mengamalkannya, maka pantaslah mereka mendapatkan kemurkaan dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ serta kebencian dan kemarahan dari-Nya. Walaupun mereka memandang diri sebagai manusia yang mulia, terpandang, berkududukan lagi maju serta bermartabat dan seterusnya. Apa (arti) kemajuaannya jika mereka di atas kesesatan, dimurkai Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fâtihah: 7]

Bukan jalannya orang-orang yang tersesat yaitu jalannya orang-orang yang beribadah kepada Allah dan mereka beramal. Mereka zuhud akan tetapi tidak di atas ilmu dan petunjuk dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, maka amalan mereka bagaikan debu yang berterbangan tidaklah bermanfaat bagi mereka sedikitpun karena mereka tersesat dari jalan yang lurus. Mereka beramal dengan letih namun tidak bermanfaat, dan di antara mereka itu adalah kaum Nashrani.

Kaum nashrani ada dalam ajaran mereka ibadah kerahiban akan tetapi tanpa ilmu, sehingga mereka tersesat dan keliru. Maka tolak ukurnya bukanlah pada sebatas kesungguhan saja tanpa disesuaikan dengan kebenaran serta jalan yang benar.

Misalnya saja pada pemahaman sufiyyah yang ada di tengah umat Islam. Mereka itu di atas jalan kaum Nashrani, mereka beribadah, zuhud, bersungguh-sungguh, mereka melakukan ‘uzlah (menjauh dari keramaian manusia), namun mereka tidak memiliki ilmu dan juga tidak belajar, justru mereka zuhud (enggan dari ilmu), mereka berkata kepada manusia untuk beramal saja.

Adapun ilmu akan menyibukan kalian dari amalan, dan yang lebih dituntut dari kalian adalah beramal. Mereka menjauhkan manusia dari ilmu, dari duduk bersama di hadapan para ulama untuk mengambil ilmu dari mereka, mereka katakan bahwa para ulama itu adalah orang-orang yang kurang akalnya, menghalangi kalian dari beramal, inilah ajaran mereka. (bersambung)

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/%2014381]

SYARAT-SYARAT TAUHID

SYARAT-SYARAT TAUHID

AL USTADZ MUHAMMAD AS SEWWED

Kalimat tauhid mempunyai keutamaan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikatakan bahwa kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).

Namun sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dalam kitab Fathul Majid bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat لا إله إلا الله. Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barangsiapa yang tidak melengkapinya maka ucapannya hanya igauan tanpa makna.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan surga kepada orang-orang mukmin, Rasulullah menyebutkannya degan lafadz:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ….. (متفق عليه

Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah… (HR. Bukhari Muslim)

Lafadz شهد (bersaksi) bukanlah sekedar ucapan, karena persaksian lebih luas maknanya daripada ucapan. Lafadz ini mengandung ucapan dengan lisan, ilmu, pemahaman, keyakinan dalam hati dan pembuktian dengan amalan.

Bukankah kita ketahui bahwa seseorang yang mempersaksikan suatu persaksian di hadapan hakim di pengadilan, tidak akan diterima jika saksi tersebut tidak mengetahui? Atau ia tidak memahami apa yang dia ucapkan? Bukankah jika ia berbicara dengan ragu dan tidak yakin juga tidak akan diterima persaksiannya? Demikian pula persaksian seseorang yang bertentangan dengan perbuatannya sendiri, tidak akan dipercaya oleh pengadilan manapun. Hal ini jika ditinjau dari makna شهد (mempersaksikan).

Oleh karena itu sebatas mengucapkan-nya tanpa adanya pengetahuan tentang maknanya, keyakinan hati, dan tanpa pengamalan terhadap konsekwensi-konsekwensinya baik berupa pensucian diri dari noda kesyirikan maupun pengikhlasan ucapan dan amalan ucapan hati dan lisan, amalan hati dan anggota badan maka hal tersebut tidaklah bermanfaat menurut kesepakatan para ulama (lihat Fathul Majid, Abdurrahman Alu Syaikh, hal. 52)

Itulah hakikat makna syahadat yang harus ditunjukkan dengan adanya keikhlasan dan kejujuran yang mana keduanya harus berjalan beriringan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika tidak mengikhlaskan persaksiannya berarti dia adalah musyrik dan apabila tidak jujur dalam persaksiannya berarti dia munafiq.

Jadi, persaksian dengan kalimat لا إله إلا الله yang merupakan kunci untuk membuka pintu surga tentu harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

Syarat pertama: Ilmu
yaitu pengetahuan terhadap makna syahadat yang membuahkan peniadaan terhadap kebodohan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ…. محمد: 19

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut diibadahi kecuali Allah …. (Muhammad: 19)

dan dalam hadits disebutkan:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان

Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga (HR. Muslim)

Syarat kedua: Yakin
Yaitu keyakinan dengan tanpa keraguan terhadap kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali jika seseorang mengucapkannya dalam keadaan yakin terhadap kandungan makna dari persaksiannya.

Dalilnya adalah firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا…الحجرات: 15

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu … (al-Hujurat: 15)

Untuk membuktikan kebenaran keimanannya, Allah memberikan syarat adanya keyakinan pada keimanannya ini. Karena orang yang ragu dalam keimanannya tidak lain hanyalah orang-orang munafiq  -wal iyadzu billah- sebagaimana yang diterangkan dalam ayat-Nya:

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ. التوبة: 45

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.(at-Taubah: 45)

Adapun dalil dari sunnah adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits:

مَنْ لَقِيْتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبَهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة

Barangsiapa yang menemuiKu dari balik tabir ini yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah dengan yakin terhadapnya dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Syarat ketiga: Menerima
Yaitu menerima segala konsekuensi-konseuensi dari kalimat syahadat baik dengan hatinya maupun dengan lisannya. Tidak seperti kaum musyrikin yang tidak mau menerima konsekuensi kalimat tauhid yaitu meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ الصافات: 36

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dika-takan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (ash-Shafat: 35-36)

Adapun dalil dari hadits adalah:

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَ لِغَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ
فَأَنْبَتَتِ الْكَـَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَـَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ. (رواه البخاري

Sesungguhnya permisalan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla telah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu ini adalah bagaikan hujan yang membasahi bumi. Ada di antara bumi yang subur, ia dapat menerima air, menumbuhkan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Ada pula bumi yang tidak subur, ia tidak dapat menerima air tesebut, namun Allah memberikan manfaat bagi manusia, hingga mereka dapat minum darinya dan menggembalakan ternaknya. Dan ada pula bumi lain yaitu padang pasir yang tidak bisa menerima air dan tidak pula dapat menumbuhkan pohon-pohonan. Maka demikianlah permisalan bagi siapa yang paham terhadap agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Allah mengutusku dengannya maka dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan per-misalan bagi siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengan hal itu dan tidak me-nerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya. (HR. Bukhari)

Syarat keempat: Tunduk
yaitu tunduk dan menerima konsekuensi-konsekuensi kalimat .لا إله إلا الله Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ. لقمان: 22

Dan barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan. (Luqman: 22)

Syarat kelima: Jujur
Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengucapkannya secara jujur dari dalam hatinya. Maka jika mengucapkan syahadat dengan lisannya akan tetapi tidak dibenarkan oleh hatinya berati dia adalah munafiq, pendusta.
Allah berfirman:
الم(1)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ 2 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ العنكبوت: 3
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan se-sungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 1-3)

dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ . (رواه البخاري

Tidaklah dari salah seorang di antara kalian yang bersaksi bahwasanya tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasa-nya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari lubuk hatinya, kecuali Allah akan mengharamkannya dari api neraka. (HR. Bukhari)

Syarat keenam: Ikhlas
yaitu keikhlasan yang bermakna memurnikan, maka apabila ibadahnya diberikan pula kepada selain Allah, maka hilanglah keikhlasan dan jatuh ke dalam kesyirikan. Maka keikhlasan harus meniadakan bentuk amalan kesyirikan, kemunafiqan, riya’ dan sum’ah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. الزمر: 2

…Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama kepadaNya. (az-Zu-mar: 2)

وَمَآ أُمِرُوآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ…

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (al-Bayyinah: 5)

dan dalam hadits:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (رواه البخاري

Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah seseorang yang berkata لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ dengan ikhlas dari lubuk hatinya. (HR. Bukhari)

Syarat ketujuh: Kecintaan
yaitu kecintaan kepada Allah, terhadap kalimat syahadat ini, terhadap konsekuensi-konsekuensinya, terhadap orang-orang yang mengamalkannya dan berpegang teguh dengan syarat-syaratnya serta benci terhadap perkara-perkara yang membatalkan syahadat. Sebagaimana firmanNya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…. البقرة: 165

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (al-Baqarah: 165)

dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهُ أنَ ْيَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَْقذِفَ فِي الناَّرِ. (رواه البخاري

Barangsiapa yang ada padanya (tiga perkara ini) maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan. Yakni jika ia lebih mencintai Allah dan rasulNya daripada selain keduanya, dan jika mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan benci pada kekafiran sebagaimana kebenciannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Bukhari)

Syarat kedelapan: Mengingkari Thaghut
yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Bentuk-bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dalam bentuk jin, manusia atau pun pohon-pohonan dan hewan-hewan. Didefinisikan oleh Ibnul Qayyim dengan ucapannya: “Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan manusia keluar dari batas kehambaannya kepada Allah apakah dalam bentuk matbu’ (panutan), ma’bud (sesembahan) atau mutha’ (yang ditaati)”.  Atau dengan kata lain sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi kufur dan syirik.

Maka pimpinan thaghut yang harus diingkari pertama adalah setan, kemudian dukun-dukun yang datang pada mereka setan-setan, kemudian semua yang diibadahi selain Allah dalam keadaan ridha yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. البقرة: 256

Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah: 256)

dan dalam hadits:

مَنْ قالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ. (رواه مسلم

Barangsiapa yang berkata لا إله إلا الله dan me-ngingkari terhadap apa-apa yang diibada-hi selain Allah, maka haram harta dan da-rahnya. Adapun perhitungannya ada pada sisi Allah (HR. Muslim). Wallahu a’lam.

Ustadz Muhammad Umar As-sewed

MERAPI MELETUS HUJAN ABU 20 APRIL 2014

Pagi ini jam 07.00 hujan abu melanda kampung kami di Perumahan KCVRI Veteran Kencuran Sukoharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta.

Menurut kabar dari Abu Isa seorang warga kemalang klaten bahwa terjadi letusan sekitar jam 05.00 WIB pagi ini. Letusan ini cukup keras dan mengagetkan warga.. namun letusan hanya sekali. Menurut Abu Isa warga kembali tenang setelah tidak ada letusan lagi.

Semoga Allah hindarkan seluruh masyarakat dari musibah. Amin yaa rabbal ‘alamin.

Jazakummullahu khairon katsiiro atas beritanya kepada Abu Isa Darno di Kemalang…