Resiko Menjadi Orang Yang Mengikuti Sunnah

Hari Rabu kemarin ana mendapat undangan aqiqoh di tempat seorang teman.

Mertuanya sangat kaya dan sepertinya termasuk yang dihormati di kompleks perumahan itu.

Tamu yang diundang adalah seluruh warga Salafiyyin di sekitar pondok. dan juga warga di sekitar perumahan milik mertua ikhwan tersebut.

Singkat kisah sampailah acara makan. Sang mertua mempersilahkan hadirin untuk berdiri dan menyantap hidangan yang ada di meja. namun saat ada sekitar 5 atau 6 orang ikhwah salafiyyin mengantri, tiba-tiba shohibul hajjah dan ada seorang ikhwah yang sepertinya jadi pengatur acara ini mengatakan: “Akh, nanti ikhwan makan dengan nampan saja, senampan lima atau empat orang.”

Melihat pemandangan itu keruan saja hati ana trenyuh, ikhwah yang sudah terlanjur berdiri, segera kembali duduk dan menunggu sabar sambil melihat para tamu istimewa yang berjumlah sedikit menyantap hidangan secara prasmanan. Setelah beberapa saat. dibagikanlah hidangan kepada ikhwah, yang dengan semangat khas, berdo’a dan mulai menyantap hidangan. Setelah itu mendo’akan shohibul hajjah dan berpamitan pulang karena waktu sudah masuk sholat dzhuhur. Mereka tentu tidak ingin terlambat sholat berjama’ah di Masjid Mereka yang juga Jannah Mereka.

Afwan sebelumnya, bukan ingin ghibah, tapi inilah jalannya para Nabi dan Rasul yang penuh dengan cobaan dan hinaan. Para ahlussunnah itu makan dengan ceria dan bercakap-cakap tentang dunia mereka yang singkat ini. dan kejadian diskriminasi makanan tadi tidak mereka pedulikan, dan entah sengaja atau tidak  menggambarkan bahwa memang derajat ahlussunnah jika di nilai dari segi dunia tidak ada apa-apanya. Namun insya Allah semua mengharapkan balasan hanya dari Allah semata.

Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 5256)

dan biarlah mereka menyantap hidangan yang bermacam jenis lengkap diatas meja prasmanan itu. mendapat sambutan lebih istimewa.Biarlah kita makan senampan lima orang dengan satu jenis lauk saja. biarlah istri dan anak-anak kita duduk bersahaja dilantai dengan pakaian yang tidak wangi dan tidak sedap dipandang. Dan mereke yang semoga Allah memberi hidayah gemerlapan dengan dunianya.

Tetaplah dengan kebahagiaan kita mendo’akan kebaikan bagi saudara kita, berprasangka baik kepada saudara kita….

Apa yang tampak dimata kita itu sesungguhnya hanya sebagian kecil dari cobaan bagi kita. tulisan ini hanya sebagai penyemangat bagi mereka yang sudah menyandarkan dirinya kepada manhaj ahlussunnah waljama’ah. Bahwa cobaan dan derita di depan sana masih banyak yang menanti. sehingga kita benar-benar disaring . Siapa yang paling jujur dalam keimanannya.